064 – (Bahagian 4) – Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

(Bahagian 4) – Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Dari imam Ahmad bin Hanbal (katanya):

Dasar ahlus sunnah menurut kami adalah, 6 – Meninggalkan perdebatan, beradu hujjah, serta pertikaian dalam urusan agama. 7 – as-Sunnah menurut kami adalah atsar-atsar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 8 – as-Sunnah adalah penjelas al-Qur’an iaitu petunjuk-petunjuk di dalam al-Qur’an. 9 – Di dalam as-Sunnah tidak ada qiyas. (Imam Ahmad bin Hanbal, Ushulus Sunnah, Prinsip 6, 7, 8 & 9)

Penjelasan/Syarah:

Sebagai dalilnya, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, iaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.” (Surah ar-Ruum, 30: 31-32)

“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang kafir.” (Surah aI-Mu’min, 40: 4)

“Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (isa)?” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Surah az-Zukhruf, 43: 58)

Di dalam hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah sebelumnya berada di atas petunjuk melainkan mereka akan diberi perdebatan.” Kemudian beliau membacakan ayat tersebut. (Hadis hasan, diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi dan imam Ahmad. Lihat juga Shahih at-Targhiib, 137)

Dan di dalam hadis lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang paling keras permusuhannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 4523 dan Muslim, 2668)

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang menjadikan agamanya sebagai tujuan untuk bermusuhan maka ia akan banyak berpindah-pindah (agama).” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi (304) dan al-Ajurri (Atsar: 39) dengan sanad yang sahih bersesuaian dengan syarat al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hasan (al-Bashri) berkata kepada seseorang yang mendebatnya: “Adapun aku, maka aku telah mengetahui agamaku. Maka jika kamu telah menghilangkan agamamu, maka carilah.” (Hasan Iighairihi, lihat asy-Syarii’ah, atsar: 241)

Ahmad bin Abi al-Hawari berkata: “Telah mengatakan Abdullah bin al-Busri (ia tergolong sebagai orang-orang yang khusyu’): “Sunnah menurut kami bukanlah sekadar kamu membantah pengikut hawa nafsu dan bid’ah, akan tetapi Sunnah menurut kami adalah kamu tidak mengajak berbicara siapapun dari mereka.” (Lihat aI-Ibanah, 2/471)

Hanbal bin Ishaq berkata: “Seseorang telah menulis surat kepada Abi Abdillah (iaitu Ahmad bin Hanbal) meminta izin darinya agar ia menyusun sebuah kitab yang menjelaskan bantahan terhadap ahli bid’ah, dan agar ia hadir bersama ahli kalam (mantiq) lalu berbincang dan berhujjah ke atas mereka.”

Maka Abu Abdillah menulis balasan kepadanya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, semoga Allah memberimu akibat yang baik dan mencegah darimu segala hal yang dibenci dan diwaspadai. Sesungguhnya yang kami dengar dan ketahui dari para ulama yang kami jumpai, bahawa mereka membenci berbicara dan meneruskan perbincangan bersama orang-orang yang sesat. Perkara yang ada hanyalah menyerahkan dan mengembalikannya kepada apa yang ada di dalam Kitab Allah dan tidak melampauinya. Dan orang-orang sentiasa akan membenci setiap orang yang berbicara, sama ada dengan menyusun kitab atau berduduk-duduk dengan ahli bid’ah untuk menjelaskan kepadanya berkenaan urusan agama yang masih samar baginya. Maka insyaAllah yang selamat adalah dengan meninggalkan berduduk-duduk dan meneruskan perbincangan bersama mereka dalam bid’ah-bid’ah dan kesesatan mereka. Hendaknya seseorang itu takut kepada Allah dan kembali kepada perkara-perakara yang bermanfaat baginya di hari kemudian (hari kiamat) dengan berbuat amal soleh yang dipersembahkan untuk dirinya, dan janganlah dia tergolong ke dalam kelompok orang-orang yang merekacipta perkara-perkara baru. Maka apabila dia keluar darinya, maka ia meng-inginkan hujjah baginya, lalu dia membawa dirinya kepada sesuatu yang mustahil dan mencari hujjah tatkala ia keluar darinya dengan sebab yang haq ataupun bathil, dengan tujuan menghiasi bid’ah dan perkara baru yang ia adakan. Lebih parah lagi apabila dia menempatkannya di dalam sebuah kitab, lalu mengambil darinya, maka ia hendak menghiasi bid’ahnya dengan al-haq dan kebathilan, walapun telah jelas baginya kebenaran itu ada pada selainnya.

Kami memohon kepada Allah taufiq-Nya bagi kita semua dan seluruh kaum muslimin. Dan semoga kesejahteraan selalu ada padamu.” (al-Ibaanah (2/338)

Menurut ‘Ied al-Abbasi (mu’alliq), dia berkata: “Ini adalah sikap lmam Ahmad yang berlebihan di dalam mengingkari perkara-perkara baru. Kerana sepengetahuan-ku, pada hakikatnya apa yang telah ditetapkan dan diputuskan oleh para ulama Islam setelahnya adalah diperbolehkannya menyusun kitab, bahkan sebahagian kitab wajib disusun. Keadaan tersebut termasuk maslahah mursalah untuk menjaga lima perkara yang wajib dijaga, yang paling utama adalah agama.”

Dalil bagi prinsip yang seterusnya,

“Dan Kami turunkan kepadamu aI-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada rnereka dan supaya mereka memikirkan.” (Surah an-NahI, 16: 44)

Makhul asy-Syami berkata: “AI-Qur’an itu lebih memerlukan as-Sunnah daripada keperluan as-Sunnah kepada al-Qur’an.” (Lihat Jami’ Bayanil ‘ilmi, karya lbnu Abdil Bar (2352) dan isnadnya sahih)

Berkenaan perkataannya imam Ahmad: “Di dalam as-Sunnah tidak ada qiyas”,

Ini adalah yang dimaksudkan yakni tidak ada qiyas di dalam masalah aqidah, yang ada hanyalah nash-nash yang qath’i (pasti) dan tauqifiyyah kerana permasalahan aqidah tidak dapat difahami dengan akal fikiran semata-mata.

Dinukil dan disunting dari:

Kitab Ushulus Sunnah, oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq/Syarah Walid bin Muhammad Nubaih, m/s. 56-60. (Edisi Terjemahan: Terbitan Pustaka Darul Ilmi, Mac 2008M)