023 – BERIMAN KEPADA HARI AKHIR (Bahagian 2)

BERIMAN KEPADA HARI AKHIR (Bahagian Kedua (2))

V. KEBANGKITAN DAN MAHSYAR

Setelah mengetahui dalil-dalil ba‘ts (kebangkitan), akan diterangkan sifat-sifat-nya. Yakni setelah tiupan sangkakala pertama dan matinya semua makhluk, mereka tetap seperti itu untuk masa tertentu sebelum ba’ts. Sebagaimana disebutkan dalam hadis al-Bukhari dan Muslim dar Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda,

“Jarak antara dua tiupan itu 40 (empat puluh). Mereka bertanya, ‘Wahai Abu Hurairah apakah 40 hari?’ Dia berkata, ‘Saya menolak (tidak mahu menjelaskan). Mereka bertanya, ‘Empat puluh bulan?’ Dia berkata, ‘Saya menolak.’ Mereka bertanya, ‘Empat puluh tahun?’ Dia berkata, ‘Saya menolak.’ Kemudian Allah menurunkan air dari langit, maka mereka bermunculan seperti tumbuhnya sayuran. Dia berkata, ‘Tidak ada bahagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘Ajbudz dzanab (Ajbu adalah bahagian akhir, dzanab adalah ekor. Jadi maksudnya, bagian kecil pada tulang ekor, yang mana tulang ekor pada manusia tu terdiri dari tiga atau empat ratus (pent.)), darinya makhluk itu disusun kembali pada Hari Kiamat.’ (Hadis Riwayat Muslim 4/2270-2271)

Apabila ajbudz dzanab sudah tumbuh dan jasad-jasad sudah utuh seperti semula, ditiuplah sangkakala yang kedua kalinya. Lalu kembalilah semua ruh ke dalam jasad masing-masing. Allah berfirman,

Dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh). (at-Takhwir 81: 7)

Pertama kali Allah berfirman,

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (al-Anbiya’ 21: 104)

Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?.” Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). (Yasin 36: 51-52)

(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah hari ke luar (dari kubur). (Qaaf 50: 42)

“(Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (Al-Muthaffifin 83: 6)

Dan ayat-ayat dalam hal mi banyak sekali.

Sesudah kebangkitan ini manusia digiring ke tanah mahsyar (tempat berkumpul).

Allah berfirman,

(Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka ke luar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. (Qaaf 50: 44)

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka. (al-Kahfi 18: 47)

Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (Yunus 10: 45)

Di dalam ayat-ayat tersebut terdapat petunjuk bahwa pengumpulan manusia (hasyr) adalah salah satu kenyataan akhirat, yaitu pengumpulan mereka menuju tanah mahsyar dan tempat kebangkitan mereka dengan cara yang berbeza-beza.

Di sanalah semua makhluk akan berdiri, terus berdiri lama sekali menunggu keputusan hukum. Sementara keadaan mereka bermacam-macam berdasarkan keadaan mereka di dunia. Maka nampaklah amalan-amalan manusia dan tidak tersembunyikan dari siapa pun, ditambah lagi dengan ketakutan dan kengerian di tempat berdiri mereka. Maka mereka mencari orang yang dapat memberi syafaat untuk mereka kepada Allah agar memutuskan hukum di antara mereka. Maka mereka memohon kepada bapak mereka, Adam Lalu beliau menyuruh mereka mendatangi Nabi Nuh a.s., dan Nuh pun menyuruh agar mereka pergi kepada Ibrahim lalu Ibrahim menyuruh mereka mendatangi Musa; semuanya beralasan bahwa Allah pada hari itu murka, belum pernah murka seperti itu dan tidak akan murka sesudah itu sepertinya, serta mereka beralasan pula dengan kesalahan yang pemah terjadi pada diri mereka. Lalu Musa menyuruh mereka mendatangi Isa dan beliau beralasan bahawa Allah sedang murka, tidak pernah murka seperti itu dan tidak akan murka lagi Sepertinya, kemudian beliau menyuruh mereka mendatangi Nabi Muhammad s.a.w., maka beliau pun memberi syafaatnya. Kemudian Allah mengizinkan pelaksanaan qadha’ (keputusan hukum) bagi segenap makhluk (Harap dirujuk kembali pada hadis syafaat yang panjang dalam Kutub Sittah, seperti al-Bukhari 9/179, Muslim 1/184 dan 186, Musnad Ahmad 2l/435-436.). Dan Allah Maha cepat Penghitungan-Nya.

Berikut ini beberapa dalil tentang keadaan yang terjadi pada Hari Kiamat sebelum masuk syurga atau neraka:

Pertama: ARDH (Penyodoran) dan HISAB (Penghitungan Amal) Maksudnya adalah Allah memperlihatkan kepada manusia apa saja yang telah dilakukannya di dunia dan menjadikannya mengakui hal tersebut. Sebagaimana Allah akan mengqishash sebahagian makhluk untuk sebahagiannya, serta memutuskan hukum di antara mereka. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Dalil-dalilnya di dalam al-Quran dan Hadits sangat banyak, antara lain firman Allah,

Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami), (al-A’raaf 7: 6)

Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka. (al-Kahfi 18: 47)

Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. (al-Mukmin 40: 17)

Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka. (al-Ghasyiyah 88: 25-26)

Allah lah, yang mengurus hisab para makhluk dengan sendiri-Nya, berdasarkan hadis al-Bukhari dan Muslim dari Adi Ibnu Hatim, dia berkata, Rasulullah bersabda,

“Tidak seorang pun di antara kalian melainkan Allah akan mengajaknya bicara, tidak ada antara Allah dan dia penerjemah. Maka dia melihat ke sebelah kanannya ternyata dia tidak melihat kecuali apa yang telah dia persembahkan dari amalnya (yang baik), dan melihat sebelah kirinya maka ia pun tidak melihat kecuali apa yang telah ia kerjakan, dan dia melihat di hadapannya maka dia tidak melihat kecuali neraka di hadapan wajahnya. Kerana itu takutilah neraka sekalipun dengan (bersedekah) separuh kurma.” (HR. al-Bukhari 9/181, Muslim 2/703- 704)

Kemudian didatangkanlah kitab-kitab yang telah dicatat oleh para malaikat yang mengawasi bani Adam agar setiap orang membaca isinya dan supaya masing-masing berdiri memperhatikan amalnya, sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya,

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.” (al-Kahfi 18: 49)

Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (al-Isra’ 17: 13-14)

Setiap orang mengetahui keadaannya sebagaimana manusia mengetahui hal itu ketika pembahagian kitab (catatan amal). Maka barangsiapa kitabnya diberikan dengan tangan kanan maka dia termasuk orang yang beruntung dan hisabnya mudah serta dimudahkan. Dan barangsiapa diberikan kitabnya dengan tangan kirinya dan belakang punggungnya maka hisabnya sulit dan barang siapa dipersulit hisabnya maka ia binasa; berdasarkan hadis al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah bahwa ia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Tidaklah ada orang yang dihisab kecuali binasa (celaka).” Aisyah berkata, “Ya Rasulullah -semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusan Anda – bukankah Allah s.w.t. berfirman,

Maka adapun orang yang diberikan kitabnya dengan tangan kanannya maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.’ (Al-Insyiqaq: 7-8).

Beliau menjawab, “Itu adalah penyodoran amal, mereka diperlihatkan amalnya. Dan siapa yang diperinci hisabnya maka ia binasa.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 6/208, lihat Muslim 4/2204-2205)

Di antara kurnia Allah dan kasih sayang-Nya kepada orang-orang mukmin, Dia tidak mempersulit hisab atas amal-amal mereka melainkan hanya memperlihatkan amal kepada mereka serta meminta mereka untuk mengakuinya. Termasuk di dalamnya sesuatu yang Allah sembunyikan atas mereka di dunia, begitu pula pada mauqif (mahsyar) ini tidak seorang pun yang mengetahuinya. Allah berkata kepada orang-orang mukmin, ‘Aku telah menutupi hal itu di dunia dan hari ini Aku mengampuninya’.”

Berbeza dengan orang kafir, maka diumumkan amal mereka di hadapan makhluk sejagat, berdasarkan hadis Ibnu Umar r.a. beliau ditanya, “Bagaimana Anda mendengar sabda Rasulullah tentang an-Najwa?” Beliau berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Orang mukmin pada Hari Kiamat akan didekatkan dari Tuhannya sampai Dia meletakkan atasnya tabir-Nya, lalu Dia membuatnya untuk mengakui dosa-dosanya, maka Dia bertanya, ‘Apakah engkau mengetahui?’ Dia menjawab, ‘Wahai Tuhanku, saya mengetahui.’ Dia berfirman, ‘Sesungguhnya Aku telah menutupi dosa-dosa itu atasmu di dunia dan sesungguhnya Aku mengampuni hari ini untukmu.’ Maka diberikanlah catatan kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, maka dipanggillah mereka di hadapan para makhluk; mereka itulah yang berbohong atas (nama) Allah.” (Hadis Riwayat Muslim 4/2120, al-Bukhari 6/93)

Allah telah menghitung semua amal makhluk, yang baik mahupun yang buruk. Allah berfirman,

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, nescaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Az-Zalzalah: 7-8)

“Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Al-Mujadilah: 6)

Maka setiap orang akan melihat amalnya, tidak ada alasan untuk mengingkarinya, kerana bumi akan bersaksi dan anggota badan pun akan berbicara. Allah berfirman,

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’, pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (Al-Zalzalah: 1-4)

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin: 65)

Jadi suasana benar-benar tegang dan menakutkan. Orang yang cerdik adalah orang yang menundukkan nafsunya dan beramal untuk menghadapi apa yang terjadi sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya. Sementara dia mengharapkan dan Allah berbagai macam harapan.

Kedua: HAUDH (Telaga)

Haudh adalah tempat berkumpulnya air. Bentuk jamaknya adalah hiyadh. Sedangkan yang dimaksud dengan haudh di sini adalah telaga besar tempat minumnya umat Muhammad s.a.w., pada Hari Kiamat, kecuali orang yang menyalahi petunjuknya dan menggantinya (dengan yang lain) sesudah wafat beliau terdapat hadis-hadis mutawatir tentang haudh beserta sifatnya, antara lain:

a) Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi bersabda,

“Sesungguhnya ukuran haudhku adalah seperti jarak antara Aylah (Aylah adalah kota terkenal di hujung Syam di tepi laut merah, di tengah-tengah antara Madinah, Damaskus dan Mesir. Ada yang mengatakan ia adalah kota perbatasan antara Hijaz dan Syam (pent.)) dan San‘a dari Yaman. Dan sesungguhnya di dalamnya terdapat bejana-bejana sebanyak bilangan bintang-bintang di langit.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 8/149, dan Muslim 4/1800)

b) Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan sanad dan Abdul Malik bin Umair, ia berkata, ‘Saya mendengar Jundub 4 berkata bahwa saya mendengar Nabi bersabda,

“Aku mendahului kalian atas haudh.” (HR. al-Bukhani 8/151, Muslim 4/1792)

c) Dalam Shahihain (Bukhari & Muslim) dan lainnya dijelaskan bahwa Rasulullah bersabda di tengah-tengah sahabatnya,

“Sesungguhnya aku berada di atas haudh, aku menunggu siapa di antara kalian yang datang kepadaku. Demi Allah, sesungguhnya onang-orang pasti akan dihalangi sebelum sampai kepadaku. Kemudian aku pasti akan berkata, ‘Ya Rabbi, (mereka) itu dan golonganku, dan umatku!’ Maka Dia berfirman, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu, mereka mundur berpaling’.” (Haids Riwayat al-Bukhari 8/151-152, Muslim 4/1794)

Di dalam hadits-hadits yang telah kami sebutkan tadi terdapat bukti tentang penetapan haudh Rasul s.a.w. dan sebahagian ciricirinya, dan bahwasanya Rasulullah s.a.w. mendatanginya terlebih dahulu sebelum umatnya, dan sesungguhnya melakukan bid’ah serta menyalahi perintah-perintah Rasul menjadi penghalang untuk meminum di telaga Rasul s.a.w.

Di antara sifat haudh yang ada di dalam hadis-hadis adalah ia sangat luas dan lebar, luas dan panjangnya sama, setiap sisi dan sisi-sisinya adalah sejauh perjalanan satu bulan, airnya berasal dan telaga al-Kautsar, di tengahnya terdapat dua pancuran dan surga, airnya lebih putih daripada susu, lebih dingin daripada salji, lebih manis daripada madu dan lebih wangi daripada minyak kesturi, dan cangkir-cangkirnya sebanyak jumlah bintang di langit; siapa yang meminum darinya tidak akan haus selama-lamanya.

Sesungguhnya beriman kepada haudh dan sifat-sifatnya adalah wajib atas setiap muslim, karena hal tersebut disampaikan secara benar dari Rasulullah s.a.w., tanpa ada keraguan sedikit pun; yang dapat difahami dan zahir lafaznya tanpa memerlukan takwil.

Ketiga: MIZAN (Timbangan)

Mizan adalah alat untuk mengukur. Yang dimaksudkan di sini adalah mizan yang sesungguhnya (hakiki), yang mempunyai dua daun timbangan yang nyata dipasang untuk menimbang amal para hamba sesudah selesai hisab, penetapan amal dan penyodorannya kepada anak Adam.

Di sini tenlihat keadilan Allah dan tidak seorang pun yang dizalimi sedikit pun. Dia mendatangkan amal-amal manusia sekalipun seberat satu biji sawi, untuk menunjukkan ukuran beratnya agar balasannya setimpal dengannya.

Boleh jadi timbangan amal itu banyak jumlahnya, tetapi mungkin juga hanya satu (wallahu a‘lam), dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, yang jelas dalil-dalil tentang keberadaan mizan dan penimbangan amal sangat banyak, antara lain:

a) Firman Allah,

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf 7: 8-9)

b) Firman Allah,

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (AlAnbiya’: 47)

c) Firman Allah,

“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam.” (Al-Mu’minun: 102-103)

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Iaitu) api yang sangat panas.” (Al-Qariah: 6-11)

Dalam ayat-ayat di atas terdapat dalil-dalil yang menuniukkan bahwa mawazin (timbangan-timbangan) itu haq (benar), penimbangan amal itu benar, dan keselamatan atau kerugian yang didasarkan atas berat dan ringannya timbangan amal juga benar. Sesungguhnya amal-amal yang ditimbang adalah benda yang tidak berwujud yang tidak dapat ditimbang di dunia, akan tetapi bisa ditimbang di akhirat. Sebab hukum yang berlaku di sana bukan hukum dalam kehidupan kita di dunia. Juga amal-amal yang ditimbang tadi berbeza-beza berat dan ringannya, bergantung pada niat dan keikhlasan yang menyertainya. Jadi yang dinilai di dalam timbangan bukanlah dzat amalnya saja, tetapi juga unsur yang mengiringi, kerana banyak sekali orang-orang yang membaca syahadat, tetapi kejahatannya mengalahkan amal solehhnya. Padahal seandainya syahadat diletakkan pada salah satu daun mizan kemudian langit dan bumi beserta isinya diletakkan pada daun mizan yang lain, niscaya syahadatlah yang lebih berat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits. (Lihat Musnad Imam Ahmad 11/170, 786 dan 225)

Wallahu a ‘lam.

Keempat: SHIRATH (Jalan)

Shirath adalah thariq atau jalan. Yang dimaksudkan di sini ialah jambatan yang membentang di atas punggung Neraka Jahannam sebagai satu-satunya jalan menuju syurga Allah. Lewat di atas shirath adalah berlaku umum bagi seluruh manusia, yang tidak mungkin masuk ke surga kecuali setelah berhasil melewati jambatan ini.

Allah berfirman,

“Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam 19: 71)

Rasulullah s.a.w. menjelaskan bahwa melewati shirath adalah suatu pemandangan yang menakutkan, membuat orang lupa akan keluarga dan kerabatnya, sampai ia mampu memungkin untuk gagal dan berhasil.

Kemampuan menyeberang adalah terpulang kepada istiqamahnya seseorang dalam meniti agama Islam, atau ash-shirath al-mustaqim, atau jalan orang-orang yang diberi nikmat. Maka barangsiapa beristiqamah di atas agama yang Allah ridhai, iaitu shirath yang bersifat maknawi, maka ia akan mampu menyeberang di atas shirath yang bersifat inderawi sesuai dengan nilai istiqainahnya.

Barangsiapa menyimpang dari shirath mustaqim di dunia di waktu kemakmurannya, maka dia tidak akan tahan di atas shirath yang licin di saat kalut dan ketakutan, dan dia benar-benar kehilangan kenderaannya iaitu amal shaith.

Di antara dalil-dalil shahth yang menunjukkan shirath, sifat-sifat dan penyeberangan di atasnya adalah sebagai berikut:

a) Hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dengan sanadnya dari Abu Hurairah di dalam hadis yang panjang Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Dibentangkan shirath itu di antara dua tepi Jahanam. Aku dan umatku adalah orang yang pertama kali melewatinya. Tidak ada yang berbicara melainkan para rasul, dan doa para rasul pada hari itu adalah, ‘Allahumma sallim, sallim (Ya Allah! Selamatkanlah, selamatkanlah).’ Dan di dalam Jahanam terdapat kait-kait seperti duri pohon sa’dan (Sa’dan adalah sebuah pohon yang dipenuhi oleh duri-duri besar. (pent.)). Apakah kalian pernah melihat pohon sa‘dan? Mereka menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah’. Beliau menjawab, ‘Dia itu seperti duri-duri pohon sa‘dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui ukuran besarnya selain Allah. Dia itu merenggut manusia sesuai dengan amal perbuatannya. Maka di antara mereka ada yang tetap (tidak direnggut) karena amalnya, dan di antara mereka ada yang dibalas sampai diselamatkan…” (HR. Muslim 1/163-166, al-Bukhari 8/146-148)

b) Apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dan dari Hudzaifah, Rasulullah s.a.w. bersabda dalam hadis syafaat yang di dalamnya terdapat “Lalu mereka mendatangi Muhammad s.a.w.. Maka beliau berdiri kemudian diizinkan baginya. Kemudian diutuslah amanah dan (silatur) rahim (Diutusnya amanah dan rahim karena begitu besar nilainya dan seringnya terjadi. Maka mereka berdua nampak dalam satu perjalanan sesuai dengan kehendak Allah. (pent.))” Maka keduanya berdiri pada kedua tepi shirath sebelah kanan dan kiri. Kemudian orang pertama dan kalian melewati (shirath) bagaikan kilat. Ia bertanya, saya berkata, Kujadikan bapak dan ibuku sebagai tebusan bagi Anda, apa itu seperti kilat?’ Beliau bersabda,

“Tidakkah kalian melihat kilat, bagaimana ia lewat dan kembali dalam sekejap mata? Kemudian (ada yang) seperti jalannya angin, kemudian seperti terbangnya burung dan seperti larinya orang laki-laki. Dan amal-amal mereka berjalan membawa mereka. Nabi berdiri di atas shirath sambil berdo’a, ‘Rabbi, sallim, sallim (Tuhanku! selamatkan, selamatkan) sampai ada hamba-hamba yang menjadi lemah amalnya (Tidak mampu membawa mereka melintas shirath (pent.)),’ hingga datang seorang laki-laki dan ia tidak dapat berjalan kecuali dengan merangkak. Beliau bersabda, ‘Di antara kedua sisi shirath terdapat kait-kait menggantung yang diperintah untuk mengambil orang-orang yang diperintahkan kepadanya (untuk mengambilnya), maka ada yang terluka kulitnya (tetapi) selamat (dari neraka) dan ada yang didorong ke dalam neraka.” (HR. Muslim 1/186-187)

Dalam hadis-hadis tersebut terdapat dalil adanya shirath, sifatnya, dahsyatnya suasana dan bahwasanya amal-amal itu adalah sarana untuk melintasi shirath dan sebab keselamatan, kerana firman Allah s.w.t.,

“Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bentakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (Maryam: 72)

Maksudnya Allah menyelamatkan mereka sesudah melintas shirath, dan membiarkan orang-orang zalim tetap berlutut di atas shirath tidak boleh melewatinya.

Apabila kita perhatikan dari keterangan di atas, kenyataan-kenyataan yang ada di Hari Akhir adalah samar, tidak mampu dimengerti dengan akal, kerana memang tidak ada bandingnya dengan kenyataan duniawi. Maka wajib untuk tidak mempersulitkan hakikat perkara-perkara ini, dan menyerahkan ilmunya kepada Allah. Wallahu a’lam!

Kelima: SYAFA’AT

Syafaat adalah mengumpulkan sesuatu (menggabungkannya) dengan sejenisnya. Syafaat juga artinya wasilah (perantara) dan thalab (permintaan). Ini erti syafaat secara bahasa, adapun menurut istilah, syafaat ialah: سوال الخير للغير (meminta kebaikan untuk orang lain). Dengan kata lain, berpihak atau bergabung kepada orang lain sebagai penolongnya, dan sebagai orang yang meminta (kebaikan) untuknya. Sedangkan yang lebih banyak dipergunakan dalam hal ini adalah bergabungnya orang yang lebih tinggi derajat dan martabatnya kepada orang yang lebih rendah.

Termasuk syafaat adalah doa seseorang untuk saudaranya dan permohonannya kepada Allah agar menuntun (saudara)nya kepada kebenaran, atau agar menolak darinya segala hal yang berbahaya, atau agar mengampuni segala dosanya, baik itu dilakukan di dunia dan orang hidup untuk orang yang meninggal mahupun pada Har Kiamat nanti.

Syafaat merupakan satu sebab dari sekian sebab yang membuat Allah berbelas kasih kepada orang yang Dia kasihi dan hamba-Nya. Maka yang berhak mendapatkan syafaat adalah ahli tauhid, dan yang terhalang adalah ahli syirik. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48 dan 116)

Syafaat di sisi Allah berbeda dengan syafaat yang ada pada selainNya. Ia harus memenuhi dua syarat:

Syarat pertama:

Izin Allah kepada syafi’ (orang yang memberi syafaat) untuk memberikan syafaatnya. Ini berdasarkan firman Allah,

“Siapakah yang dapat membeni syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya?” (Al-Baqarah 2: 255)

“Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meredhai perkataannya.” (Thaha 20: 109)

“Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu “(Saba’: 23)

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai(Nya).” (An-Najm: 26)

Sayyidusy-Syufa’a bersabda dalam hadits syafaat yang panjang:

“Maka aku meminta izin kepada Rabbku, lalu diizinkanlah aku, Dia mengilhami aku bacaan-bacaan tahmid yang aku gunakan untuk bertahmid, aku tidak mengenalnya sekarang, maka aku bertahmid dengan bacaan-bacaan tahmid itu dan aku menunduk sujud kepada-Nya. Kemudian dikatakan, ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan dikabulkam, mintalah engkau akan diberi dan berikanlah syafaat engkau akan dikabulkan syafaatmu’.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 9/179-180 dan Muslim 1/180-181)

Syarat kedua:

Redha terhadap masyfu’lahu (orang yang disyafaati). Dan redha Allah tidak dapat diperoleh kecuali dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apa yang Dia perintah adalah diredhai dan apa yang Dia larang adalah dimurkai. Dalil-dalil tentang hal itu banyak sekali, antara lain firman Allah,

“Mereka tidak memberikan syafa’at kecuali kepada orang yang Dia redhai.” (Al-Anbiya: 28)

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafa’atnya.” (Ghafir/Mukmin 40: 18)

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dan orang-orang yang memberikan syafaat.” (Al-Muddatstsir: 48)

Sabda Rasulullah dari Abu Hurairah r.a.,

“Setiap nabi mempunyai doa mustajab dan setiap nabi bersegera menggunakan doanya. Sedangkan doaku, aku simpan sebagai syafaat bagi umatku di Hari Kiamat. Ia akan diperolehi -insya Allah- oleh orang yang mati dan umatku yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun.” (Hadis Riwayat Muslim 1/189)

Dalil-dalil dua syarat ini banyak sekali. Semua menjelaskan, syafa’at pada Hari Kiamat tidak akan ada kecuali bagi orang-orang yang diizinkan-Nya dan Dia tidak akan mengizinkan kecuali bagi para wali-Nya (kekasih-Nya) yang pilihan. Dan para wali ini tidak akan memberi syafa’at kecuali kepada orang-orang yang diredhai Allah dari ahli tauhid. Sebagaimana syafaat itu akan diberikan kepada orang yang mengucapkan, “La ilaha illallah”, sekalipun sesudah masuk neraka; dengan menyelamatkannya dari neraka. Syafaat tidak akan ada dari ahli syirik, karena ia adalah milik Allah semata. Seperti firman Allah,

“Katakanlah, kepunyaan Allah-lah syafa’at itu semua.” (Az-Zumar 39: 44)

Maka tidak diperbolehkan meminta syafaat dari selain Allah s.w.t.

Macam-Macam Syafaat

Syafaat ada lapan jenis, iaitu:

1) Syafaat Agung (Syafaat Uzhma), yaitu khusus milik Nabi Muhammad s.a.w., yakni yang disebut ma qarn rnahmud yang dijanjikan Allah dengan firman-Nya,

“…mudah-mudahan Tuhanmu rnengangkat karnu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra 17: 79)

Iaitu ketika suasana mahsyar telah menjadi dahsyat. Mereka mencari syafaat agar mereka segera diberi keputusan. Maka mereka mendatangi Adam a.s., kemudian Nuh a.s., kemudian Ibrahim a.s., kemudian Musa a.s. kemudian Isa bin Maryam a.s. yang kesemuanya mengatakan, “Nafsi-nafsi.” Sehingga berakhir kepada Nabi kita Muhammad s.a.w. dan beliau berkata, “Ana laha (aku akan melakukannya).” (Lihat al-Bukhari 9/179-180, dan Sahih Muslim 1/180-187)

2) Syafaat untuk penduduk syurga agar dapat memasukinya. Sebagaimana riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik r.a., ia berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Aku adalah orang pertama yang memberi syafa’at untuk masuk Syurga dan aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya.” (Hadis Riwayat Muslim 1/188)

3) Syafaat untuk orang-orang yang jumlah kebaikannya sama dengan dosanya supaya boleh masuk Surga.

4) Syafaat untuk mengangkat darjat ahli syurga di atas yang semestinya.

5) Syafaat untuk orang-orang yang sudah diputuskan masuk neraka supaya tidak jadi masuk neraka.

6) Syafa’at untuk orang-orang agar boleh masuk syurga tanpa hisab. Di antara dalilnya ialah sabda Rasulullah s.a.w. kepada Ukasyah bin Mihshan ketika meminta dari beliau agar memohon kepada Allah supaya ia dijadikan termasuk golongan 70000 orang yang akan masuk syurga tanpa hisab:

“Ya Allah, jadikanlah ia termasuk di antara mereka.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 8/140 dan Muslim 1/197-198)

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad s.a.w. dalam hadis syafaat:

“Masukkanlah dari ummatmu orang-orang yang tidak dihisab dari pintu kanan dan pintu-pintu surga.” (HR. Muslim 1/185-186)

Dan ini terjadi sesudah syafaat.

7. Syafaat untuk mengeluarkan orang-orang Islam yang berdosa besar yang telah masuk neraka agar dikeluarkan dari neraka. Sebagaimana diterangkan dalam hadis-hadis yang mencapai darjat mutawatir. Syafa’at ini umum; berkali-kali dilakukan oleh Rasulullah s.a.w., juga malaikat dan para nabi serta orang-orang mukmin akan memberi syafa’atnya, sebagaimana dijelaskan oleh hadits-hadits syafaat (lihat Shahih al-Bukhari 9/ 185-191, dan Sahih Muslim 1/179-184)

8. Syafaat Rasulullah s.a.w., untuk meringankan siksa pamannya Abu Thalib berdasarkan riwayat al-Bukhari dan Muslim dengan sanadnya dari Abu Said al-Khudhri r.a., bahawasanya Rasulullah s.a.w. ketika disebut pamannya, Abu Thalib di hadapannya maka beliau bersabda,

“Mudah-mudahan syafa’atku akan menolongnya pada Hari Kiamat, kemudian ia ditempatkan di Dhahdhah (Dhahdhah adalah genangan air yang dangkal yang membasahi sampai mata kaki. Kemudian istilah ni dipinjam untuk api yang tidak besar nyalanya, yang hanya membakar sampai mata kaki. (pent.)) dan neraka yang membuat otaknya mendidih.” (Hadis Riwayat al-Bukhari 8/144 dan Muslim 1/195)

Syafaat beliau tidak boleh membuatnya keluar dari api neraka, kerana dia meninggal dalam keadaan musyrik, berbeza dengan muwahhid (orang-orang yang bertauhid). Wallahu a‘lam!